Menu

Mode Gelap

Opini · 12 Okt 2025 03:26 WIB ·

Literasi Kendondong


 Literasi Kendondong Perbesar

Di era digital, budaya literasi sering dianggap ketinggalan zaman. Tapi, tunggu dulu. Mari kita bicarakan satu hal penting: kedondong. Ya, buah yang kadang manis, kadang masam, dan kadang bikin bijinya nyangkut di tenggorokan itu.

Apa hubungannya kedondong dengan literasi? Tenang, kita sedang tidak membuat salad buah. Tapi sedang mengupas—secara perinci dan sedikit nyeleneh—tentang pentingnya menumbuhkan budaya literasi yang segar dan menggugah selera, seperti halnya kedondong yang bikin ngiler asam itu.

Apa Itu Literasi? Bukan Cuma Bisa Baca Tulisan di Kemasan Mie Instan

Menurut UNESCO (2023), literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, berkomunikasi, dan menghitung, menggunakan bahan cetak maupun digital dalam berbagai konteks. Jadi bukan sekadar bisa baca “gratis ongkir sampai jam 12 malam.”

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tingkat literasi fungsional masyarakat Indonesia masih berada pada kisaran 65%, artinya masih banyak yang belum bisa menggunakan kemampuan baca-tulisnya untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari secara optimal.

Lalu, Di Mana Letak Kedondong?

Nah, mari kita anggap “kedondong” sebagai simbol dari sesuatu yang lokal, underrated, tapi kaya manfaat. Dalam hal ini, literasi di Indonesia ibarat kedondong:

Banyak ditemukan (buku banyak, akses digital melimpah), Tapi tidak semua suka (literasi dianggap membosankan), Padahal kandungannya kaya manfaat (literasi bisa mengubah masa depan!)

Menurut riset IPB (2021), kedondong mengandung vitamin C tinggi, antioksidan, dan serat yang baik untuk pencernaan. Sama seperti literasi, yang mengandung vitamin logika, antioksidan hoaks, dan serat intelektual untuk pencernaan berpikir.

Menumbuhkan Literasi ala Kedondong: Segar, Asam, dan Nendang!

1. Segarkan Cara Belajar:
Gunakan media yang dekat dengan anak muda: TikTok edukatif, podcast literasi, dan meme literatur.

2. Asamkan dengan Tantangan:
Buat lomba membaca, resensi buku mingguan, atau klub baca yang tidak hanya serius, tapi juga bisa membahas “Kenapa Korupsi Indonesia tiada habisnya?”

3. Nendang ke Dunia Nyata:
Literasi harus berdampak. Ajak pembaca muda membuat proyek sosial berbasis bacaan: dari membaca tentang perubahan iklim, lalu menanam pohon kedondong di lingkungan rumahnya.
Karena literasi bukan hanya tentang bisa baca buku, tapi tentang bagaimana kita membaca hidup. Dalam dunia yang penuh informasi setengah matang dan opini overcooked, literasi jadi alat detoks paling mujarab.

Bayangkan jika seluruh generasi muda Indonesia memiliki literasi tinggi: debat jadi sehat, opini jadi berisi, dan komentar YouTube tidak lagi “cair,cair & cair.”

Jadilah Kedondong di Dunia Literasi
Literasi itu penting. Tapi literasi yang menyenangkan dan membumi—itulah yang bertahan. Seperti kedondong, mungkin tak semahal apel Washington, tapi siapa bilang lokal itu tak intelektual?

Mulailah dari satu buku, satu bacaan, satu diskusi. Jadilah individu yang tidak hanya pandai membaca, tapi juga mampu mencerna dan menginspirasi. Karena di dunia ini, yang lebih langka dari kedondong matang adalah anak muda yang literat dan semangat.

Tapi ada juga yang lebih penting dari bukan hanya sekedar baca, apa itu?, integritas, kemandirian & kebermanfaatan untuk orang banyak. bukan soal cair, cair dan cair. bukan itu namun bermanfaat untuk orang banyak.

Miftahul Arifin
Sekretaris PC LAKPESDAM NU Situbondo

Artikel ini telah dibaca 6 kali