Situbondo, Seemetris.id – Dalam sebuah pengajian yang disampaikan oleh KH. Afifuddin Muhajir, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, beliau mengangkat nasihat mendalam dari Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental Ihya’ Ulumiddin mengenai bahaya pujian. Menurut beliau, pujian bukan hanya persoalan ringan, tapi bisa menjadi malapetaka lisan yang berakibat buruk, baik bagi orang yang memuji maupun yang dipuji.
KH. Afifuddin menjelaskan bahwa Imam Al-Ghazali mengidentifikasi enam bentuk bahaya dari pujian, dengan rincian empat dampak negatif menimpa si pemberi pujian, dan dua lainnya menimpa si penerima pujian.
Empat Bahaya bagi yang Memuji
1. Berlebihan dalam memuji
Orang yang memuji secara berlebihan dapat terjerumus dalam kedustaan, karena mengatakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan.
2. Munafik dan mencari muka
Pujian seringkali diucapkan untuk menunjukkan cinta atau simpati yang tidak tulus, ini termasuk dalam sikap riya dan kemunafikan.
3. Mengatakan yang tidak nyata
Memuji dengan menyebutkan kelebihan yang tidak dimiliki sama saja dengan berbohong dan membual, yang bertentangan dengan nilai kejujuran dalam Islam.
4. Memuji orang dzalim atau fasik
Pujian kepada orang yang dikenal zalim atau fasik dianggap tidak sah dan terlarang, karena dapat memperkuat kebatilan dan menyenangkan pelaku kemungkaran.
Dua Bahaya bagi yang Dipuji
1. Timbul sifat takabbur dan ujub
Pujian bisa menanamkan perasaan sombong dan bangga diri, yang menyebabkan seseorang merendahkan orang lain dan jatuh ke dalam sifat yang membinasakan.
2. Lalai dalam ibadah
Ketika seseorang merasa sudah cukup dengan kebaikan yang dipuji, ia bisa menjadi puas diri dan malas beribadah, karena merasa telah melakukan banyak amal, padahal sejatinya seorang hamba harus selalu merasa kurang dalam amalnya.
Pujian yang Dibolehkan
Di akhir pengajiannya, KH. Afifuddin menegaskan bahwa tidak semua pujian dilarang. Jika pujian disampaikan dengan jujur, tidak berlebihan, dan tidak membawa dampak buruk, maka hukumnya boleh bahkan dianjurkan, terutama untuk memberi semangat atau apresiasi yang tulus.
> “Namun pujian yang menimbulkan kerusakan pada hati—baik bagi yang memuji maupun yang dipuji—hendaknya dihindari,” tegas KH. Afifuddin.
Pengajian ini menjadi pengingat penting di era media sosial, di mana pujian seringkali diumbar tanpa pertimbangan. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, lisan yang tidak dijaga bisa menjadi sumber petaka, dan pujian adalah salah satu bentuk fitnah yang paling halus namun berbahaya.











