Situbondo, Seemetris.id – Desa Olean menunjukkan inovasi dalam pengembangan pariwisata dengan menggelar pelatihan Pemandu Wisata Edukasi pertama kalinya di tingkat desa Kabupaten Situbondo.
Sebanyak 20 anggota pengelola Wisata KK26 Desa Olean antusias mengikuti pelatihan intensif selama tiga hari. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Situbondo, Puguh Wardoyo, Camat Kota Situbondo, Jupri Setyo, serta Kepala Desa Olean, Ansori.
Bertindak sebagai pemateri utama adalah Agus Ejef, seorang praktisi pariwisata edukasi berpengalaman tingkat nasional dan juri nasional Anugerah Desa Wisata Indonesia dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Dalam penutupan pelatihan, Agus Ejef menekankan bahwa desa wisata memiliki peran lebih dari sekadar tempat berlibur.
“Desa wisata adalah sebuah proses dinamis yang melibatkan berbagai aspek, termasuk edukasi transformatif bagi pengunjung,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemandu wisata memegang kunci penting dalam menjembatani interaksi antara wisatawan dan masyarakat lokal, menciptakan pengalaman yang mendalam dan bermakna.
Agus Ejef menjelaskan bahwa desa wisata bukan hanya sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan sebuah perjalanan yang melibatkan berbagai elemen, baik positif maupun negatif.
Dalam konteks ini, peran pemandu wisata menjadi sangat krusial. Pemandu wisata tidak hanya bertugas mengantar wisatawan menikmati pemandangan, tetapi juga memberikan nilai tambah melalui pengalaman dan interaksi sosial yang memperkaya.
Mereka bertindak sebagai penghubung esensial antara wisatawan dan masyarakat desa, menyediakan informasi yang relevan, memberikan arahan yang tepat, membimbing aktivitas, dan menjaga keselamatan wisatawan.
Edukasi, menurutnya, merupakan aspek sentral dalam konsep wisata desa yang ideal. Lebih dari sekadar transfer pengetahuan dangkal, wisata desa yang edukatif berupaya melibatkan wisatawan secara aktif, menciptakan pengalaman yang membekas, dan mendorong perubahan perilaku yang positif.
Agus Ejef memberikan contoh konkret mengenai potensi transformatif wisata desa.
“Seorang anak kota yang mungkin tidak pernah bersentuhan dengan kehidupan pertanian, dapat merasakan langsung bagaimana sulitnya menanam padi di sawah. Pengalaman ini dapat menumbuhkan apresiasi yang lebih dalam terhadap petani dan makanan yang mereka hasilkan,” jelasnya pada Sabtu (10/5/2025).
Proses edukasi yang efektif dalam konteks wisata desa, lanjutnya, melibatkan perencanaan yang matang. Komponen-komponen pentingnya meliputi kurikulum atau garis besar pembelajaran, silabus yang terstruktur, tujuan pembelajaran yang jelas, materi yang relevan, model penyampaian yang interaktif, dan metode yang menyenangkan.
Wisata edukasi yang ideal melibatkan semua panca indra wisatawan dan merangsang pengembangan kognitif mereka. Evaluasi pembelajaran juga merupakan tahapan krusial untuk mengukur keberhasilan program wisata edukasi. Testimoni dan umpan balik dari wisatawan memberikan wawasan berharga tentang efektivitas pengalaman yang mereka dapatkan.
Agus Ejef menekankan pentingnya menyesuaikan pendekatan edukasi dalam wisata desa dengan karakteristik target pengunjung.
“Materi pengenalan pertanian untuk anak-anak taman kanak-kanak tentu akan berbeda dengan materi yang disampaikan kepada siswa sekolah menengah pertama. Dengan demikian, wisata desa dapat memberikan dampak edukatif yang optimal dan berkelanjutan,” tegasnya











