Menu

Mode Gelap

Berita Daerah · 20 Okt 2025 12:07 WIB ·

Ancaman Kebenaran Semu dalam Kritik terhadap Pesantren


 Ancaman Kebenaran Semu dalam Kritik terhadap Pesantren Perbesar

Ancaman Kebenaran Semu dalam Kritik terhadap Pesantren

Oleh: Nyai Hj. Nur Sari As’adiyah
Pelindung ASKAR HAFASS Situbondo

Dewasa ini, marak muncul konten kreator yang menyampaikan kritik terhadap pesantren hanya berdasarkan satu sumber data, yaitu media sosial. Padahal, dalam pendekatan ilmiah dan objektif, mengkaji suatu fenomena semestinya dilakukan melalui beragam sumber data yang valid serta kajian langsung di lapangan. Hanya dengan cara demikian, kesimpulan yang diambil akan memiliki pijakan ilmiah yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika tidak, yang muncul hanyalah kesimpulan prematur yang rawan menyesatkan.

Fenomena ini berpotensi melahirkan apa yang disebut dengan kebenaran semu. Kebenaran semu adalah bentuk “kebenaran” yang tidak lagi bertumpu pada fakta, tetapi hanya sebatas persepsi yang terbentuk melalui proses framing. Ia bukan hasil dari proses analisis objektif, melainkan konstruksi persepsi publik yang bisa dimanipulasi melalui narasi sepihak.

Lebih jauh, kebenaran semu merupakan kondisi ketika ukuran objektivitas dan validitas data diabaikan. Dalam konteks ini, sesuatu dianggap benar bukan karena berdasarkan bukti, tetapi karena banyak orang mempercayainya atau karena narasi tersebut berhasil menyentuh sisi emosional audiens.

Kondisi ini sangat relevan dengan istilah post-truth, yaitu suatu era di mana kebenaran faktual mulai tergeser oleh pengaruh emosi dan opini pribadi. Jika dalam pendekatan kebenaran klasik, fakta menjadi landasan utama, maka dalam post-truth, persepsi yang dibentuk oleh framing mengambil alih peran tersebut.

Persepsi ini bukanlah hasil refleksi atas realitas objektif, melainkan buah dari konstruksi sosial yang dibentuk oleh aktor-aktor tertentu melalui media, khususnya media sosial. Maka, kritik yang tidak didasarkan pada data yang utuh dan metodologi yang benar, justru berisiko menyebarkan disinformasi serta merugikan institusi pendidikan seperti pesantren.

Dalam konteks ini, penting bagi publik dan para penggiat media untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menyampaikan opini, terlebih jika menyangkut institusi pendidikan yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter bangsa.

Artikel ini telah dibaca 997 kali

Baca Lainnya

Sebagai Bentuk Penghargaan dan Apresiasi, Anggota DPRD Jatim Zainiye Berikan Bantuan Tali Asih Pada Pegiat Seni Tradisional di Situbondo 

19 Maret 2026 - 05:27 WIB

Wabup Ulfiyah Serahkan Bantuan BTT Untuk Korban Terdampak Bencana 

16 Maret 2026 - 12:17 WIB

Wabup Ulfiyah Optimis Pemkab Situbondo Bisa Naik Predikat Utama KLA

6 Maret 2026 - 06:44 WIB

Fatayat NU Situbondo Bersama FES dan PS Bagikan Ratusan Takjil Gratis 

28 Februari 2026 - 10:30 WIB

Resmikan Bazar UMKM Santri, Wabup Ulfiyah: Amanah Lima Wasiat Kiyai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin Andil Dalam Ekonomi ke Ummatan

22 Februari 2026 - 13:24 WIB

Pemkab Situbondo Pastikan Tanggung Biaya Perawatan Medis Korban Ledakan Petasan dan Perbaikan Rumah

19 Februari 2026 - 12:15 WIB

Trending di BERITA