Situbondo,seemetris.idhttp://seemetris.id– Dalam dinamika hubungan antara pers dan kekuasaan lokal, seringkali terjadi gesekan yang mengemuka ke ruang publik. Di Situbondo, muncul fenomena unik ketika sejumlah insan pers diduga menggunakan strategi playing victim sebagai cara menyerang tokoh publik, yang oleh sebagian masyarakat dijuluki sebagai “Ultraman Situbondo” — sebuah simbol figur pemimpin lokal yang kuat, tegas, namun kontroversial. Fenomena ini membuka ruang untuk ditelaah dari perspektif komunikasi politik, psikologi sosial, dan etika jurnalistik.
Konsep Playing Victim dalam Ruang Publik
Playing victim atau memposisikan diri sebagai korban adalah strategi psikologis dan retorik yang digunakan individu atau kelompok untuk mendapatkan simpati publik, mengalihkan isu, atau melemahkan lawan secara moral. Dalam konteks insan pers, strategi ini bisa muncul ketika wartawan atau media merasa disudutkan oleh kekuasaan, namun dalam beberapa kasus, peran korban digunakan secara manipulatif untuk memperkuat narasi serangan terhadap pejabat publik.
Relasi Tegang antara Pers dan “Ultraman Situbondo”
Julukan “Ultraman Situbondo” mengindikasikan sosok kepala daerah atau figur lokal yang dikenal tegas dan sering tampil di ruang publik dengan gaya yang mencolok. Ketegasan tersebut seringkali berbenturan dengan gaya pemberitaan kritis dari media. Ketika kritik dibalas dengan klarifikasi, beberapa pihak di kalangan pers kemudian membangun narasi ketertindasan. Dalam situasi ini, publik dibuat menilai bahwa kebebasan pers sedang ditekan, padahal konflik tersebut bisa jadi adalah hasil dari dinamika komunikasi dua arah yang tidak berjalan efektif.
Analisis Kritis: Pers, Etika, dan Kepentingan
Penting untuk membedakan antara kebebasan pers yang sah dengan praktik framing yang bias dan bermotif politik. Ketika insan pers menggunakan platform medianya untuk menciptakan narasi bahwa mereka adalah korban kekuasaan, perlu ditelusuri: apakah ini merupakan bentuk perlawanan terhadap represi, atau justru bagian dari strategi propaganda? Di sisi lain, pejabat publik seperti “Ultraman Situbondo” juga harus menjunjung tinggi transparansi, etika komunikasi, dan keterbukaan terhadap kritik.
Dampak terhadap Opini Publik dan Demokrasi Lokal
Penggunaan strategi playing victim oleh insan pers dapat berdampak signifikan terhadap persepsi publik. Masyarakat yang tidak mendapatkan informasi seimbang cenderung mudah terprovokasi, membentuk opini yang keliru, atau bahkan kehilangan kepercayaan terhadap institusi baik media maupun pemerintah. Dalam jangka panjang, hal ini merusak kualitas demokrasi lokal, karena diskursus publik menjadi tidak sehat dan penuh dengan misinformasi serta konflik kepentingan.
Kesimpulan
Fenomena playing victim di kalangan insan pers dalam konteks konflik dengan tokoh seperti “Ultraman Situbondo” merupakan gejala kompleks dalam demokrasi lokal. Diperlukan kedewasaan dari kedua belah pihak — media dan pemerintah — dalam menjaga etika, akuntabilitas, serta tanggung jawab sosial mereka. Media harus tetap menjadi kontrol sosial yang independen dan objektif, sementara pemerintah daerah wajib menjamin kebebasan pers tanpa kehilangan kewibawaan institusionalnya.











