TEL AVIV – Serangan roket dan rudal balistik Iran menghantam beberapa kota besar di Israel, termasuk Ramat Gan, Tel Aviv, dan Rishon LeZion, pada Sabtu malam (waktu setempat), menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur sipil serta memicu kepanikan luas di tengah masyarakat. Serangan ini menjadi salah satu yang paling serius terhadap wilayah Israel dalam beberapa dekade terakhir, dan menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas sistem pertahanan udara berlapis milik negara tersebut.
Bangunan Rusak, Korban Sipil Berjatuhan
Menurut laporan awal dari otoritas setempat, beberapa unit apartemen, kendaraan, dan fasilitas umum mengalami kerusakan parah. Rekaman video dari warga memperlihatkan ledakan besar di distrik Kirya — pusat militer utama di jantung Tel Aviv — yang menjadi salah satu target utama dalam serangan ini. Gumpalan asap tebal membumbung tinggi setelah rudal menghantam area tersebut, diikuti dengan bunyi sirene yang membelah malam di seluruh penjuru kota.
Laporan dari rumah sakit menyebutkan adanya puluhan korban luka, termasuk anak-anak dan lansia, sementara tim penyelamat masih melakukan evakuasi dari reruntuhan bangunan. Layanan darurat bekerja tanpa henti sepanjang malam untuk menyelamatkan korban yang terperangkap.
Iron Dome Diuji, Ketangguhan Dipertanyakan
Meski sistem pertahanan udara Israel seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow 3 dikerahkan secara maksimal, banyak rudal Iran tetap berhasil menembus pertahanan dan menghantam target strategis. Hal ini memunculkan pertanyaan global mengenai kesiapan dan kapasitas nyata sistem pertahanan Zionis yang selama ini disebut sebagai salah satu yang tercanggih di dunia.
“Setiap rudal yang lolos dan mencapai target adalah kegagalan sistem,” ujar analis militer Boyko Nikolov, dikutip dari Bulgarian Military. “Namun perlu dicatat, Iron Dome sejatinya tidak dirancang untuk menangkal rudal balistik seperti yang diluncurkan Iran. Tetap saja, sistem ini berhasil mencegat 20 hingga 30 persen dari rudal yang masuk — sebuah pencapaian mengingat tekanan volume serangan yang sangat tinggi.”
Para pengamat menilai bahwa sistem pertahanan Israel memang bekerja, namun tidak cukup untuk menghadapi serangan terkoordinasi dalam skala besar yang melibatkan berbagai jenis rudal dengan kecepatan dan lintasan berbeda.
Iran Klaim Serangan Balasan, Sebut Respons atas Agresi Israel
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebutkan bahwa rentetan rudal yang diluncurkan adalah balasan langsung atas serangan Israel sebelumnya terhadap fasilitas sensitif milik Iran, termasuk kompleks nuklir di Natanz dan pembunuhan sejumlah pejabat tinggi militer Iran.
“Ini adalah peringatan keras bahwa tindakan agresif terhadap wilayah dan kepentingan Iran tidak akan dibiarkan tanpa balasan,” tulis IRGC dalam pernyataan persnya.
Bantuan AS Terlibat, Dunia Serukan Deeskalasi
Seorang pejabat pertahanan Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan AS yang berbasis di kawasan ikut membantu dalam mencegat sebagian rudal yang masuk ke wilayah Israel. Namun demikian, tekanan terus meningkat di Dewan Keamanan PBB, dengan sejumlah negara besar menyerukan deeskalasi segera untuk mencegah pecahnya perang terbuka di kawasan Timur Tengah.
Suasana Mencekam, Israel Tetap Siaga
Hingga Minggu pagi, suasana di Tel Aviv dan Yerusalem masih diliputi kecemasan. Warga diminta tetap berada di tempat perlindungan, dan sistem peringatan dini masih aktif di beberapa wilayah. Pemerintah Israel belum mengumumkan secara resmi jumlah korban jiwa, namun menyebutkan bahwa negara dalam status siaga penuh menghadapi kemungkinan gelombang serangan lanjutan.











